Kapan Kita Harus Pesimis dan Kapan Kita Harus Optimis?

Kapan Kita Harus Pesimis dan Kapan Kita Harus Optimis?

Masterpendidikan.com – Kapan Kita Harus Pesimis dan Kapan Kita Harus Optimis? – Jika anda sedang berada pada kondisi yang mungkin membuat anda pesimis cobalah untuk mempelajari lebih lanjut kapan kita harus pesimis dan kapan kita harus optimis.

Dalam kehidupan ini manusia selalu mempunyai rencana, namun terkadang kita memiliki perasaan atau kita pernah merasakan yang namanya pesimis. Jadi apakah kita boleh menghilangkan rasa yang namanya berharap tersebut?

Kapan Kita Harus Pesimis dan Kapan Kita Harus Optimis?

Semua sifat pesimis dan sifat optimis adalah cara menutupi ketidaktahuan terhadap informasi.

Hal ini sering dibicarakan, kamu optimis gak? kamu pesimis gak? Bagini penjelasannya, saya dalam hidup saya tidak pernah menggunakan kosa kata optimis ataupun pesimis. Mengapa demikian? Karena menurut saya semua itu bisa diperkirakan, resiko itu bisa disimulasi, resiko itu bisa diperkirakan.

Permasalahannya adalah, kembali kepada anda sendiri, apakah anda mau mengambil resiko atau tidak? Sekuat apa usaha anda atau tidak? Urusan berhasil atau tidak, tidak perlu anda optimiskan dan tidak perlu anda pesimiskan.

Lakukan saja, jika berhasil ya berhasil jika tidak ya tidak. Jika tidak berhasil maka jadikan sebagai pelajaran, sedangkan jika berhasil jadikan itu sebagai peringatan untuk berbuat lebih baik lagi. Sesederhana itu.

Contoh nya begini, anda akan mengerjakan soal ujian matematika, anda pesimis atau anda optimis, hal itu apakah akan membantu anda mengerjakan soal ujian matetika tersebut menjadi lebih baik atau tidak? Tentu jawabannya adalah tidak.

Yang membuat anda mengerjakan soal ujian matematika tersebut, pengetahuan anda atau optimis anda atau pesimis anda? Tentunya pengetahuan bukan? Se-Pesimis ataupun se-optimis apapun anda, jika anda tidak ada pengetahuan untuk menjawab soal ujian matematika tersebut, maka anda tidak akan bisa menjawabnya.

BACA JUGA :   Definisi Integritas Dan Komitmen Dalam Bekerja

Jika anda optimis apakah anda akan tahu semuanya? Dan jika anda pesimis apakah anda tidak akan tahu semuanya? Tentunya tidak seperti itu.

Semua membutuhkan strateginya, semua bisa dihitung, jika anda malas menghitung dengan cermat, jadinya nanti pesimis atau optimis. Resiko itu semua harus dihitung dari awal, kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi harus dihitung dari awal.

Anda harus memperhitungkannya, jika kemungkinan ini resikonya gagalnya akan begini, dan resiko berhasilnya akan begini. Anda harus memperhitungkannya, jika kemungkinan ini resiko gagalnya akan begini, dan resiko berhasilnya akan begini, anda mengambil keputusan ini maka resikonya ini, kemungkinan berhasilnya begini.

Kesimpulan

Jadi pesimis atau optimis itu tergantung kepada anda, anda bisa menghitung resiko atau tidak. Optimis dan pesimis itu adalah tambahan. Ketika anda tidak bisa menghitung posisinya di depan yang akan terjadi seperti apa.

Jika anda sedang ada masalah maka harus diapakan masalah tersebut? Tentunya diselesaikan bukan? Jika tidak mungkin diselesaikan bagaimana? Didentifikasi masalahnya, Ok!. Setelah anda mengidentifikasi masalah nanti akan ketahuan anda bisa menyelesaikan atau tidak.

Jika anda tidak bisa menyelesaikan masalah tersebut, apa yang akan anda lakukan? Jawabannya adalah, anda mau atau tidak menyelesaikannya? Jika tidak bisa anda selesaikan, lalu anda apakan masalah tersebut? Jawabannya adalah, Terus mau gimana lagi? anda tidak bisa menyelesaikan masalah tersebut lalu mau gimana lagi?

Jika masalah sudah tidak bisa diselesaikan, itu bukan berarti anda harus menerima, tapi anda pelajari sebagai ilmu di latar belakang, dipegang. Oh ini ada masalah, tapi anda bukan posisi yang bisa menyelesaikan masalah tersebut, suatu saat jika anda punya kekuatan untuk menyelesaikan, maka anda bisa menyelesaikan masalah tersebut.

BACA JUGA :   Pengertian, Fungsi dan Cara Membuat Surat Lamaran Kerja

You May Also Like

About the Author: admin